![]() |
| Prof Abdul Rauf sedang mengawasi warga membuat sumur resapan. |
PENGAWAL | KABANJAHE - Selama dua tahun warga Desa Sumbul Kaban Raya (SUMKARA), Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo dibelit kekhawatiran terhadap bencana banjir dan longsor.
Setiap hujan turun, parit tidak mampu lagi menampung debit air sehingga menggenangi pemukiman warga. Kondisi itu disebabkan lahan untuk resapan air sudah jauh berkurang.
Lahan yang dulunya berfungsi sebagai resapan air sudah beralih fungsi menjadi pemukiman dan jalan. Akibatnya parit menjadi satu-satunya saluran bagi air hujan.
Tak heran setiap hujan deras turun parit tidak mampu lagi menampung debit air sehingga meluap ke pemukiman warga Kondisi ini diperparah dengan timbulnya potensi longsor di beberapa titik akibat gerusan air.
"Hal inilah yang dikeluhkan warga dan menjadi kekhawatiran kami," ujar Kenangen Kaban, tokoh masyarakat SUMKARA kepada wartawan, Jumat (9/1/2026).
Ternyata keluhan warga ini sampai ke Prof Abdul Rauf, dosen Agroteknologi Fakultas Pertanian USU yang mengkhususkan diri pada bidang konservasi lahan, air dan daerah aliran sungai (DAS).
Setelah melakukan serangkaian diskusi Prof. Abdul Rauf menilai, bahwa akar masalahnya bukan pada tingginya curah hujan, melainkan hilangnya ruang bagi air untuk kembali ke tanah.
[cut]
Dari diskusi tersebut, lahirlah gagasan penerapan sumur resapan sebagai solusi yang sederhana, mudah diterapkan, dan sesuai dengan kondisi desa.
Dan gagasan ini mendapat sambutan positif dari tokoh masyarakat dan warga Sumbul Kaban Raya (SUMKARA).
Pembuatan sumur resapan pun dilakukan dengan pendampingan langsung dari Prof. Abdul Rauf sebagai tenaga ahli, bersama Darnianti S.T,M.T, dengan pendekatan teknis yang aplikatif dan ramah lingkungan.
Dalam proses pembuatannya, sumur resapan ini berbeda dengan sumur resapan konvensional yang menggunakan pipa PVC. Sumur resapan ini lebih ramah lingkungan karena dibuat dari material bambu yang mudah diperoleh, lebih kuat dan lebih selaras dengan lingkungan.
"Sementara untuk bagian saringan, dimanfaatkan barang bekas berupa kaleng cat, yang dimodifikasi agar mampu menyaring pasir dan lumpur sebelum air masuk ke dalam tanah," kata Kenangen Kaban.
Pendekatan terhadap warga untuk membangun sumur resapan ini tidak hanya menekan biaya, tetapi juga mengurangi sampah dan memberi nilai edukasi tentang pemanfaatan ulang material.
Sumur resapan tersebut dirancang untuk menampung air hujan dan air buangan rumah tangga non-limbah padat, sehingga tidak langsung membebani parit lingkungan.
[cut]
Dimana air dialirkan kembali ke dalam tanah untuk meningkatkan infiltrasi, mengurangi limpasan permukaan, serta membantu menjaga kestabilan tanah di sekitar permukiman.
Bagi sekitar 310 kepala keluarga Sumbul Kaban Raya yang bermukim di wilayah ini, keberadaan sumur resapan menjadi harapan baru dalam mengurangi genangan dan risiko kerusakan lingkungan.
Lebih dari sekadar infrastruktur, sumur resapan ini juga menjadi media pembelajaran lingkungan bagi masyarakat untuk lebih baik kedepan.
Warga dilibatkan langsung dalam proses pembuatan, mulai dari penggalian hingga pemasangan saringan, sehingga tumbuh kesadaran bahwa setiap rumah memiliki tanggung jawab terhadap air hujan yang jatuh di sekitarnya.
Apa yang dilakukan di Sumbul Kaban Raya menunjukkan, bahwa solusi lingkungan yang efektif sering kali lahir dari dialog antara keluhan masyarakat dan pengetahuan teknis.
"Dengan pendekatan sederhana, ramah lingkungan, dan berbasis partisipasi warga, sumur resapan menjadi contoh bahwa menjaga air dan tanah dapat dimulai dari langkah kecil, namun berdampak besar," ucap Kenagen.
"Karena pada akhirnya, air tidak pernah menjadi masalah. Ia hanya membutuhkan satu hal dari kita: ruang untuk kembali ke dalam tanah guna melanjutkan siklus hidrologinya," tambah Kenangen mengakhiri. (sus)
.jpg)



