Ginting Cobra, Musafir yang Menemukan Jalan Pulang

Editor: susilo author photo
Bagikan:
Komentar
Ilustrasi.

Perjalanan Muhammad Edison Ginting, dari Anak Desa Menjadi Pengusaha Kopi yang Tak Pernah Melupakan Asal

Kesuksesan sering kali hanya terlihat dari garis akhirnya. Orang menyaksikan bangunan yang berdiri megah, usaha yang berkembang, atau senyum seseorang yang telah mencapai impiannya. Namun, sedikit yang mengetahui jalan panjang yang harus dilalui sebelum semua itu menjadi kenyataan.

Begitulah kisah Muhammad Edison Ginting.

Di balik secangkir kopi yang kini dinikmati banyak orang melalui Musafir Kopi, tersimpan cerita tentang seorang anak desa yang pernah merantau ke kota hanya dengan membawa mimpi dan keberanian. Tidak ada kemewahan yang mengiringi langkahnya. Yang ia miliki hanyalah tekad untuk mengubah nasib.

Perjalanan itu sama sekali tidak mudah.

Kemiskinan menjadi teman akrab dalam perjalanan hidupnya. Cemoohan, keraguan, bahkan sikap merendahkannya dari sebagian orang pernah menjadi bagian dari hari-harinya. Namun, semua itu tidak pernah membuatnya berhenti. Justru sebaliknya, setiap ejekan menjadi cambuk yang menguatkan langkahnya.

Bagi pria yang akrab disapa Ginting ini, kemiskinan bukan alasan untuk menyerah, melainkan guru yang mengajarkan arti kerja keras, kesabaran, dan keteguhan hati.

Langkah awalnya dimulai dari dunia jurnalistik sebagai wartawan di Harian Waspada Medan. Profesi itu bukan sekadar pekerjaan, tetapi ruang belajar yang mempertemukannya dengan banyak orang, banyak cerita, dan banyak pelajaran hidup. Dari sana, ia memahami bahwa setiap perjalanan memiliki makna, setiap kegagalan menyimpan hikmah, dan setiap perjuangan selalu membuka jalan bagi mereka yang tidak berhenti melangkah.

Pengalaman itu perlahan mengantarkannya merintis sebuah usaha yang kemudian dikenal dengan nama Musafir Kopi.

Nama itu bukan dipilih tanpa alasan

"Musafir" adalah cermin perjalanan hidupnya. Sebuah simbol bahwa jalan menuju keberhasilan bukanlah jalan yang lurus dan mulus, melainkan perjalanan panjang yang dipenuhi ujian, tantangan, dan pengorbanan. Nama itu sekaligus menjadi pengingat agar ia tidak pernah lupa dari mana ia berasal dan bagaimana setiap langkah dibangun dengan kerja keras.

Meski kini kesuksesan telah menghampiri, Muhammad Edison Ginting tetap memilih hidup dengan kerendahan hati. Ia menghargai setiap usaha, menghormati setiap orang, dan tidak pernah melupakan masa-masa ketika dirinya harus berjuang sendirian menghadapi kerasnya kehidupan.

Bagi banyak orang, hinaan adalah luka. Namun bagi Ginting, hinaan justru berubah menjadi bahan bakar yang menggerakkan langkahnya.

"Tanpa cemoohan, direndahkan, dan tantangan lainnya, nggak mungkin saya bisa berada di posisi seperti saat ini. Itulah bekal saya yang menjadi bahan bakar untuk mengejar mimpi," ujarnya.

Kalimat itu bukan sekadar ungkapan. Ia adalah ringkasan dari perjalanan hidup yang ditempa oleh waktu.

Kisah Muhammad Edison Ginting mengajarkan bahwa keberhasilan bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang mampu berdiri, tetapi juga tentang seberapa kuat ia mampu bertahan ketika hidup berusaha menjatuhkannya. Sebab, mereka yang benar-benar berhasil bukanlah orang yang tak pernah mengalami kesulitan, melainkan mereka yang menjadikan setiap luka sebagai pelajaran dan setiap rintangan sebagai pijakan menuju masa depan.

Seperti seorang musafir, Muhammad Edison Ginting telah menempuh perjalanan yang panjang. Dan di setiap langkahnya, ia membuktikan bahwa mimpi akan selalu menemukan jalannya bagi mereka yang berani berjalan, meski harus melewati jalan yang paling terjal.

Perjuangannya yang tak pernah mundur dalam menghadapi setiap cobaan, membuatnya dijuluki Ginting Cobra.

Jadi Inspirasi

Oleh banyak orang, kesuksesan sering diukur dari jabatan, penghargaan, atau seberapa tinggi seseorang berdiri di puncak kariernya. Namun bagi Ginting Cobra, kesuksesan justru lahir dari sebuah malam yang sunyi, ketika langit menjadi atap, jembatan penyeberangan menjadi tempat berbaring, dan nyamuk menjadi teman yang tak diundang.

Malam itu, ia sudah menyerah.

Tak ada lagi biaya untuk bertahan hidup di Kota Medan. Empat bulan menunggak uang sewa membuat pemilik rumah kos memintanya pergi. Seharian berjalan kaki tanpa tujuan menguras tenaga dan harapan. Ketika malam tiba, satu-satunya tempat yang bisa memberinya perlindungan hanyalah jembatan penyeberangan di depan Masjid Raya Al Mashun Medan. Di sanalah ia tidur berdampingan dengan anak-anak jalanan.

Malam pertama dan kedua dilewatinya masih dengan harapan hari esok akan menemukan titik terang.

Namun ketika sampai jumpa malam ketiga, tak ada sedikitpun celah harapan yang terbuka,  Ginting tak punya pilihan lain. Pulang kampung, meskipun harus menghadapi cemoohan orang-orang sekitarnya.

Baginya, itulah langkah terakhir. Perjuangan mengejar pendidikan dan mimpi terasa telah berakhir. Tidak ada lagi alasan untuk bertahan.

Namun, hidup sering kali menyimpan kejutan di saat seseorang berada di titik paling rendah.

Pagi harinya, ketika terbangun, pandangannya tertuju pada selembar uang pecahan Rp100 ribu yang tergeletak di bawah tangga jembatan.

Jumlah itu mungkin tak berarti bagi sebagian orang. Namun bagi Ginting Cobra saat itu, uang tersebut terasa seperti secercah cahaya yang menembus gelapnya keputusasaan.

Rasa syukur memenuhi dadanya.

Ia berjalan menuju kamar mandi Masjid Raya Al Mashun untuk membersihkan diri. Meski saat itu masih memeluk agama Nasrani dan belum menjadi mualaf, hatinya tergerak untuk masuk ke dalam masjid dan mengikuti salat Subuh bersama para jamaah.

"Waktu itu saya tidak tahu harus berterima kasih kepada siapa. Saya hanya mengikuti kata hati. Setelah mandi, saya masuk ke masjid dan ikut salat Subuh bersama jamaah lainnya di Masjid Raya tanpa tahu apa yang harus saya baca," kenangnya.

Peristiwa sederhana itu menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya.

Harapan yang sempat padam kembali menyala. Keinginan untuk menyerah berubah menjadi tekad untuk bangkit. Ia membatalkan niat pulang kampung dan memilih melanjutkan kuliahnya, meski jalan yang harus ditempuh masih panjang dan penuh ketidakpastian.

Keputusan itu kemudian membuka pintu-pintu yang sebelumnya seolah tertutup rapat.

Saat menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Harian Waspada, bakat dan ketekunannya mulai mendapat tempat. Dari ruang redaksi itulah perjalanan panjangnya sebagai wartawan dimulai. Langkah demi langkah ia menapaki dunia jurnalistik, hingga akhirnya dipercaya memimpin Persatuan Wartawan Unit Pemerintah Kota Medan selama empat periode.

Kisah hidup Ginting Cobra tak berhenti menjadi cerita pribadi.

Perjalanan penuh luka, jatuh bangun, dan perjuangannya justru menginspirasi rekan sesama jurnalis, Fitmen Panjaitan. Bagi Fitmen, kisah sahabatnya terlalu berharga jika hanya menjadi kenangan.

Ia kemudian menerjemahkan perjalanan itu menjadi karya musik melalui kanal YouTube Melodi Indonesia.

Sedikitnya sepuluh lagu telah dipublikasikan sebagai media penyemangat bagi generasi muda, di antaranya Aku Anak Desa, Jangan Pernah Mundur, Langkah Terakhir, Langit Tak Jatuh, Langkahku Tegak, Cacian Penyemangatku, Berbuat Baik Aja Dulu hingga Tiga Malam Tidur Berkolong Jembatan.

Di antara lagu-lagu tersebut, Langkah Terakhir dan Tiga Malam Berkolong Jembatan menjadi yang paling emosional. Lagu itu merekam momen ketika seorang pemuda hampir mengakhiri perjuangannya, tidur di bawah jembatan dengan perut kosong dan masa depan yang tampak gelap, sebelum akhirnya menemukan alasan untuk bangkit kembali.

Lagu itu bukan sekadar tentang uang seratus ribu.

Ia adalah cerita tentang harapan yang datang di saat manusia merasa kehilangan segalanya.

Tentang keyakinan bahwa jalan buntu terkadang hanyalah tikungan menuju kehidupan yang lebih baik.

Dan tentang seorang anak desa yang pernah tidur di bawah jembatan, tetapi memilih bangkit ketika kehidupan memberinya kesempatan kedua.

Sebab, pada akhirnya, bukan besarnya cobaan yang menentukan masa depan seseorang, melainkan keberanian untuk tetap melangkah ketika hampir semua alasan untuk bertahan telah hilang. (sus)

Baca Juga
Bagikan:
Pengawal.id:
Berita Terkini
Komentar

Terkini