PENGAWAL | MEDAN - Selasa, 18 Agustus 2026, jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00 WIB, namun riuh rendah di Pasar Sentosa Baru, Sei Kera Hilir I, Medan Perjuangan, sudah berbeda dari biasanya. Bukan sekadar sahut-menyahut tawar-menawar harga cabai atau daging, melainkan gelak tawa yang membahana memecah kepenatan rutinitas pasar.
Hari itu, ratusan pedagang sekitar bersama pedagang dari sejumlah pasar lainnya di Kota Medan, meletakkan sejenak timbangan mereka, menyingsingkan lengan baju, dan menyatu bersama warga setempat. Mereka tidak sedang memprotes kebijakan, melainkan sedang merayakan kemerdekaan dengan cara yang paling organik: berlomba dan berbahagia.
Di sudut area pasar, dua batang pohon pinang yang sudah dilumuri pelumas berdiri kokoh, menantang nyali siapa saja yang berani memanjatnya. Di puncaknya, bendera Merah Putih dan bendera APPSI berkibar, menjanjikan hadiah uang tunai masing-masing Rp1 juta serta bonus kulkas hingga mesin cuci yang menggiurkan. Namun, bukan hanya panjat pinang yang mencuri perhatian. Ada pemandangan tidak biasa yang membuat para pedagang bersorak histeris sekaligus terharu.
H. Ihwan Ritonga, S.E., M.M., Ketua DPW Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Sumatera Utara, yang biasanya tampil formal dalam rapat-rapat strategis, hari itu melebur tanpa sekat. Mengenakan pakaian santai, ia kedapatan ikut "nyungsep" dan berkonsentrasi penuh dalam lomba memasukkan paku ke dalam botol—sebuah permainan masa kecil yang menguji kesabaran dan keseimbangan. Langkah kakinya yang maju-mundur demi mengarahkan paku ke mulut botol, sontak memancing tawa lepas dari emak-emak pedagang sayur yang menonton di garis pembatas. Bahkan mereka sampai histeris, saat Ihwan menjanjikan pemenang lomba dari kelompok emak-emak akan dapat uang kontan Rp500 ribu darinya.
"Kami tidak semata-mata ingin hura-hura merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan RI," ujar Ihwan di sela-sela acara dengan napas sedikit memburu namun wajahnya dihiasi senyum lebar. "Ini adalah wujud eksistensi kami. APPSI harus hadir sebagai rumah yang hangat, wadah independen yang memeluk, mewakili, dan membela kepentingan serta kesejahteraan para pedagang pasar tradisional," tambahnya.
Kehadiran Ihwan tidak sendiri. Ia didampingi oleh jajaran pengurus inti APPSI Sumut yang solid, mulai dari Sekretaris Yusuf Nasution, Ketua Harian Budi Hartoyo, Wakil Ketua Suwarno, hingga Wakil Bendahara Hari Novina. Ketegangan kepanitiaan di lapangan yang dikomandoi Ketua DPD APPSI Medan, Muhammad Sidiq, memastikan seluruh alur lomba berjalan tertib dari pagi hingga sore hari pukul 17.35 WIB.
Di balik kemeriahan lomba menangkap belut, tarik tambang, membawa guli dalam sendok, makan kerupuk, hingga joget jeruk yang mengocok perut, ada pesan mendalam yang ingin disampaikan. Pasar tradisional selama ini sering distigmakan sebagai tempat yang kumuh dan kalah saing dari ritel modern. Melalui momentum ini, APPSI ingin membalikkan narasi tersebut.
Ihwan menegaskan bahwa membangun pasar tradisional yang kuat, mandiri, bersih, dan berdaya saing adalah harga mati. Edukasi dan pembekalan terus diberikan kepada para pedagang dan pelaku UMKM agar usaha mereka tidak jalan di tempat, melainkan terus berkembang maju.
Langkah konkret ini, menurut Ihwan sangat selaras dengan ruh Asta Cita yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Mulai dari poin kedua tentang Swasembada dan Ketahanan Pangan, poin ketiga terkait penguatan Ekonomi Kerakyatan, hingga poin kelima mengenai hilirisasi dan integrasi rantai pasok (supply chain) hingga ke tingkat desa. Bahkan, pasar tradisional diproyeksikan menjadi pilar sektoral penting dalam menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis demi kemakmuran masyarakat luas.
Sore hari menjelang penutupan, suasana semakin magis. Tidak ada satu pun peserta yang pulang dengan tangan hampa. Selain hadiah elektronik seperti kipas angin, rice cooker, blender, dispenser, hingga setrika uap, panitia juga membagikan ratusan sembako berupa beras, minyak goreng, dan gula kepada seluruh peserta. Buku tulis dan puluhan tumbler juga dibagikan, membawa keceriaan bagi anak-anak para pedagang yang ikut menonton.
Kejutan tidak berhenti di arena lomba. Usai bertanding, Ihwan Ritonga bersama pengurus APPSI langsung berjalan menyusuri lorong-lorong Pasar Sentosa Baru. Ia menemui satu per satu pedagang yang sedang beraktivitas, memberikan motivasi, mendengarkan keluh kesah mereka, dan yang paling dinantikan: memborong aneka produk dagangan yang ada di lokasi.
Sore itu, Pasar Sentosa Baru bukan lagi sekadar tempat transaksi ekonomi yang kaku. Ia menjelma menjadi panggung kebersamaan, tempat di mana harkat dan martabat pedagang kecil dirayakan dengan penuh penghormatan dan tawa yang tulus. (Sumber: Humas APPSI Sumut)


