![]() |
Seorang nelayan mengeluhkan nasibnya akibat limbah batubara di PLTU Tanjung Pasir, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat. |
PENGAWAL | PANGKALAN SUSU - Meskipun pencemaran air laut akibat aktivitas Jetty Conveyor batubara di PLTU Tanjung Pasir, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara sudah berlangsung lama, namun belum ada terlihat upaya serius dari perusahaan pembangkit listrik raksasa itu untuk berbenah. Dampaknya, keseimbangan ekosistem di sekitar lokasi tersebut dipastikan terganggu.
Material batubara yang berjatuhan dari Jetty Conveyor PLTU itu, tampak dengan jelas mengubah air laut menjadi hitam. Hal itu terlihat jelas, saat awak media bersama Team Investigasi Srikandi Lestari melakukan pemantauan di sekitar alat penyuplai batubara dari dermaga ke pembangkit listrik, Senin (6/4/2020) sekira jam 10.00 WIB.
Material batubara yang berjatuhan itu tentu saja dapat mengganggu kelangsungan hidup biota laut yang ada di dalamnya. "Kalau sudah tercemar, ikan dan biota laut lainnya pasti akan mati. Gimana nasib nelayan yang menggantungkan hidupnya dari laut ini," sebut anggota Srikandi Lestari yang minta namanya dirahasiakan.
![]() |
Material batubara berjatuhan yang mengubah air laut menjadi hitam. |
Anggota yayasan yang tergabung dalam GreenPeace Internasional ini menambahkan, seharusnya perusahaan raksasa sekelas PLTU tersebut memperhatikan dampak terhadap lingkungan. Kondisi masyarakat di sekitar PLTU saat ini sangat terpuruk, karena dampak dari pencemaran limbah batubara di laut dan udara. "Bahkan, nelayan harus kehilangan hingga 50 % hasil mata pencahariannya akibat pencemaran tersebut," sambungnya.
Sedangkan masyarakat ring 1 sangat menderita akibat menghirup sisa abu pembakaran yang dibuang ke udara Pangkalan Susu. Padahal masyarakat menginginkan udara yang bersih dan air yang jernih untuk memperoleh ikan-ikan yang banyak. "Miris sekali melihat laut kita tercemar seperti ini," lanjutnya
Hal ini semakin diperburuk dengan wabah Covid-19 yang sedang melanda. Diharapkan, agar pemerintah segera memberikan perhatian serius kepada masyarakat pesisir Pangkalan Susu, agar pencemaran tidak terus terjadi. "Saat ini masyarakat sedang menderita dan membutuhkan uluran tangan, untuk segera meningkatkan kualitas hidup mereka baik dibidang ekonomi, kesejahteraan ataupun kesehatan," pungkasnya.
![]() |
Aktivitas unloading di Jetty Conveyor batubata ke PLTU Pangkalan Susu. |
Pada kesempatan yang sama, seorang nelayan yang ikut dalam investigasi itu juga merasa sangat kesal dengan pencemaran air laut yang dilihatnya. "Kalau seperti ini, gimana ikan mau hidup. Sebelum tercemar, ikannya besar-besar di sini. Sekarang, penghasilan pun sudah turun drastis," keluhnya.
Terpisah, Humas PLTU Pangkalan Susu Miduk Hutasoit saat dikonfirmasi via pesan WhatsAppnya, Selasa (7/4/2020) sore mengatakan, bahwa pihak PLTU sudah melakukan perbaikan SOP terkait unloading (bongkar) di Jetty Conveyor. "Seharusnya, sudah tidak ada lagi tumpahan batubara di laut," pungkasnya. (Ahmad)
Baca Juga