PENGAWAL.ID | MEDAN - Ketua Umum Pemuda Batak Bersatu (PBB) Lambok F. Sihombing, SPd MM mengingatkan generasi muda dan masyarakat agar tidak kehilangan etika, moral, serta sopan santun di tengah derasnya perkembangan teknologi dan media sosial, Jum'at (2/10/2026).
Lambok menilai media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus ruang publik yang memungkinkan setiap orang menyampaikan pendapat dengan cepat. Namun, kebebasan tersebut, menurut dia, tetap harus dibarengi tanggung jawab dan penghormatan terhadap orang lain.
“Media sosial adalah ruang publik. Karena itu, kebebasan berbicara harus tetap disertai dengan etika, tanggung jawab dan penghormatan terhadap sesama. Jangan sampai karena merasa berada di balik layar, seseorang merasa bebas menghina, mencaci, mempermalukan atau menyerang orang lain,” ujar Lambok.
Ia mengingatkan, perilaku pengguna media sosial, terutama orang dewasa, dapat menjadi contoh yang ditiru anak-anak dan generasi muda.
Menurut Lambok, kebiasaan mempertontonkan hujatan, kata-kata kasar, mempermalukan orang lain hingga menyebarkan informasi yang belum terverifikasi berpotensi membentuk anggapan bahwa perilaku tersebut merupakan sesuatu yang wajar.
“Anak-anak kita sedang belajar dari apa yang mereka lihat. Kalau setiap hari mereka melihat orang dewasa saling menghujat, berkata kasar, mempermalukan orang lain, menyebarkan informasi yang belum tentu benar, maka jangan heran apabila suatu saat perilaku tersebut dianggap sebagai sesuatu yang normal,” katanya.
Teknologi Maju, Moral Jangan Tertinggal
Lambok menegaskan kemajuan teknologi semestinya berjalan seiring dengan penguatan karakter. Kecakapan menggunakan perangkat digital, kata dia, tidak cukup jika tidak dibarengi kemampuan menjaga sikap dan menghormati orang lain.
“Jangan sampai generasi kita pintar menggunakan teknologi, tetapi tidak lagi mengerti bagaimana menghormati orang tua, menghargai sesama, menjaga perkataan, memahami batas kepantasan dan membedakan mana yang pantas disampaikan di ruang publik dan mana yang seharusnya tidak disampaikan,” ujarnya.
Ia juga meminta para orang tua tidak sekadar memberikan akses teknologi kepada anak, tetapi turut melakukan pendampingan dan pendidikan karakter.
Anak, menurut Lambok, perlu dibekali kemampuan menggunakan internet dan media sosial sekaligus memahami konsekuensi dari setiap informasi maupun konten yang mereka konsumsi dan unggah.
“Orang tua memiliki peran penting. Anak bukan hanya perlu diajarkan bagaimana menggunakan telepon genggam, internet dan media sosial, tetapi juga harus diajarkan bagaimana berbicara dengan santun, menghormati orang lain, memeriksa kebenaran informasi dan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka unggah,” jelasnya.
Kritik Boleh, Penghinaan Bukan
Lambok mengatakan membangun budaya bermedia sosial yang sehat bukan hanya tanggung jawab pemerintah, sekolah maupun keluarga. Organisasi masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda dan seluruh elemen masyarakat juga memiliki peran.
Ia menekankan kebebasan berekspresi tidak seharusnya dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas.
“Berbeda pendapat adalah hal yang wajar. Kritik juga merupakan bagian dari kehidupan demokratis. Tetapi kritik tidak harus disampaikan dengan penghinaan. Perbedaan pandangan tidak harus berujung pada permusuhan. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi tetap harus saling menghormati,” tegasnya.
Karena itu, Lambok mengajak seluruh kader PBB dan masyarakat untuk ikut menciptakan ruang digital yang sehat, santun dan bermartabat.
Ia mendorong media sosial dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi yang bermanfaat, memberikan edukasi, memperkuat solidaritas dan menyampaikan kritik secara konstruktif, bukan menjadi ruang untuk menyebarkan kebencian maupun merendahkan martabat orang lain.
Lambok juga mengingatkan generasi muda agar tidak menjadikan jumlah pengikut, tayangan maupun viralitas sebagai ukuran utama keberhasilan bermedia sosial.
"Jangan mengejar viral sampai kehilangan moral. Jangan mengejar perhatian sampai kehilangan harga diri. Tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan, dan tidak semua yang bisa dikatakan harus diucapkan,” katanya.
Ia berharap perkembangan budaya digital di Indonesia tetap berakar pada nilai-nilai luhur bangsa, agama, adat istiadat dan penghormatan terhadap sesama.
“Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju secara teknologi, tetapi bangsa yang mampu menjaga karakter, moral dan martabat generasinya. Mari kita wariskan kepada anak-anak kita bukan hanya teknologi, tetapi juga sopan santun, etika, moral dan rasa hormat kepada sesama,” pungkas Lambok F. Sihombing.(chan)


