![]() |
| Pelabuhan Kuala Tanjung |
Letak geografis yang strategis dan berhadapan langsung dengan Selat Malaka, membuat Kabupaten Batubara memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan sebagai keunggulan untuk meningkatkan kemakmuran bagi masyarakatnya. Tidaklah heran bila Batubara dengan kawasan pantai Kuala Tanjung dilirik untuk pengembangan pembangunan jalur tol laut yang dirancang pemerintahan Jokowi-JK. Kawasan Kuala Tanjung yang memegang peran penting sebagai hub port internasional kini tengah digenjot pengembangan dan pembangunannya dan telah difungsikan untuk aktivitas ekspor impor sejak tahun 2015 silam.
Sejalan dengan itu, juga tengah dirintis pengoperasian jalur KA dari pusat industri Sei Mangkei ke Pelabuhan Kuala Tanjung, sebagai bagian dalam Proyek Sei Mangkei yang masuk di Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
Dengan dua proyek besar ini, bukan mustahil kelak Kuala Tanjung akan menjelma menjadi kawasan pelabuhan internasional terbesar di Indonesia.
![]() |
| Kapal wisata internasional bersandara di Pelabuhan Kuala Tanjung |
Selain pendidikan, pembangunan sektor infrastruktur fisik menjadi hal yang juga tengah gencar dilakukan Pemkab Batubara. Di antaranya adalah prioritas untuk memperbaiki dan membangun jalan-jalan yang memiliki fungsi strategis, serta penghubung ke area-area yang akan dijadikan sebagai destinasi wisata dan pelabuhan Kuala Tanjung, perbaikan jembatan serta pembangunan sarana publik lainnya.
Pembangunan rumah murah yang digagas Pemkab bersama Kemenpera di Tanjung Tiram yang kini sudah mencapai 400 unit, diharapkan akan dapat meningkatkan jumlah hunian sehat bagi rakyat. Mengingat sebahagian besar profesi masyarakat adalah nelayan, yang identik dengan perumahan yang kurang memenuhi unsur rumah sehat.
Pengembangan Destinasi Wisata
![]() |
| Pulau Salah Nama |
Kabupaten yang dihuni oleh mayoritas suku Melayu, Mandailing dan Jawa ini memiliki banyak ragam destinasi, yang hingga sekarang masih terus digencarkan pembangunannya guna menjaring kunjungan wisatawan. Di antaranya Pulau Salah Nama, Danau Laut Tador, Pantai Bali, Pantai Jono, Pantai Perjuangan, adalah sederet destinasi wisata yang tengah dikembangkan.
Pulau Salah Nama adalah salah satu obyek wisata di Kabupaten Batubara yang tengah giat dipromosikan keberadaannya. Dengan nama yang cukup unik serta lokasi yang sangat menggiurkan bagi pecinta petualangan bawah air, pulau ini tengah dibenahi.
| Pulau Salah Nama |
Bukit Kubah adalah lokasi awal berdirinya Batubara di jaman dahulu. Bukit yang berada di Kampung Tiga Negeri ini tidak terlalu luas dan menjadi lokasi makam Datuk Tuan Syech Keramat Batubara. Sampai saat ini sering didatangi oleh para peziarah untuk berbagai niatan. Banyak cerita menarik dari bukit ini yang beredar dari mulut ke mulut dan dijadikan semacam mitos.
| Pantai Bali Lestari |
Songket Batubara
![]() |
| Perajin kain songket Batubara |
Songket Batubara tadinya sudah terhitung langka di pasaran. Namun perlahan pamornya kembali naik dengan semakin banyak pengrajin yang menekuni pembuatan kain tenun tradisional tersebut. Tidak hanya dalam bentuk kain sarung dan selendang saja, namun sudah mulai dimodifikasi dalam berbagai bentuk seperti kopiah, tempat tisu, taplak meja dan kemeja. Khusus untuk kemeja, keberadaan songket Batubara mendapatkan dukungan yang cukup baik dari mantan Bupati Batubara, H OK Arya Zulkarnain yang telah menetapkannya sebagai salah satu pakaian dinas resmi di jajaran pegawai dan honorer Pemkab, serta guru-guru di Kabupaten itu.
Azhar, salah satu pengrajin songket yang ada di Kota Batubara mengungkapkan, bahwa kebijakan baru dari pihak Pemkab telah turut meningkatkan gairah di kalangan penenun tradisional. Mereka merasa lebih optimis akan masa depan usaha yang telah digeluti bertahun-tahun itu.
![]() |
| Perajin songket Batubara |
Sultan Brunei dan Raja Malaysia adalah dua pelanggan setia kain songket Azhar. Raja Malaysia kerap memesan kain bermotif cempaka dengan bahan dasar benang warna hitam dan motifnya terbuat dari benang emas. Sementara Sultan Brunei memesan motif Tampuk Manggis.
Azhar yang memiliki darah biru kebangsawanan Melayu mendapatkan keterampilan menenun songket secara turun-temurun dari keluarganya, terkhusus sang Paman. Azhar sendiri terjun langsung menangani songket pada awal tahun 1977. Cukup banyak motif yang dikuasai lelaki 53 tahun ini.
Bahkan, ia juga mampu membuat motif kain tenun dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Mulai dari Riau, Minangkabau, Tapanuli, Karo, Gayo dan sebagainya. Terbilang ratusan motif yang telah pernah dikerjakannya, seperti motif cempaka, mawar, pucuk rebung, pucuk pandan, dan lain-lain. Banyak juga motif modifikasi yang merupakan buah cipta imajinasinya sendiri.
Songket yang dihasilkan Azhar biasanya dibandrol dengan harga Rp 250 ribu hingga Rp 65 juta, dengan lama waktu pengerjaan antara 7 hingga 65 hari.
Menurut Azhar, semakin halus dan rumit bahan serta motif yang dihasilkan maka akan semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk proses pengerjaannya. Yang cukup sulit adalah mencari bahan-bahan yang berkualitas baik serta penenun yang memiliki kemampuan dalam menghasilkan kain tenun yang halus. Songket yang dijual dengan harga tinggi adalah songket yang dihasilkan dari benang sutra asli berkualitas baik.
"Yang menggunakan benang sutra asli biasanya pengerjaan akan sampai 60 hari lamanya. Karena benang sutra asli lebih lengket, sehingga harus lebih hati-hati agar tidak mudah putus. Kalau benang biasa tak terlalu lama mengerjakannya. Namun kekurangannya ya kain agak sedikit kasar, tentu saja ditawarkan dengan harga yang lebih murah. Positifnya, kami ingin memasyarakatkan penggunaan songket ini hingga ke lapisan masyarakat ekonomi menengah bawah," ujar Azhar kalem.
Setiap bulannya, tak kurang dari 150 potong kain songket pesanan yang diselesaikan oleh para pengrajin Azhar. Pernah Azhar mendapatkan pesanan yang cukup besar dari salah seorang pelanggannya, dengan waktu yang cukup singkat. Namun Azhar menampik. Menurut lelaki bersuara lembut ini, ia tak ingin mengerjakan kain pesanan dengan serampangan, sehingga bila waktunya tidak memungkinkan, ia takkan menghiraukan.
![]() |
| Istana Lima Laras |
Untuk melestarikan keberadaan songket, Azhar kerap memberikan pelatihan bagi penenun-penenun muda ataupun kalangan yang tertarik untuk menggeluti kerajinan kain tradisional. Tak hanya dalam lingkup Kabupaten Batubara saja, melainkan sampai ke pulau-pulau lain yang ada di Indonesia. Kebolehan Azhar dalam menenun beragam motif tradisional membantunya dalam mengembangkan aneka produk kain tenun daerah lainnya. Ia berharap, ketrampilan yang dimiliki dan diajarkannya bisa memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan kain-kain tradisional, serta menambah kecintaan masyarakat Indonesia pada produk lokal yang tak kalah indah dengan buatan luar negeri. (sus)
Baca Juga








