Tuhan Macam Apa yang Kalian Sembah?

Editor: susilo author photo
Bagikan:
Komentar

 


Tuhan macam apa yang kalian sembah?" bisik si Yahudi, air matanya kini luruh membasahi pipinya yang keriput..

 Di bawah langit Madinah yang memanggang bumi, seorang lelaki tua dari tanah Mesir melangkah dengan kaki yang pecah-pecah. 

Ia membawa luka yang lebih perih dari sekadar lecet di telapak kakinya, gubuk reot adalah satu-satunya saksi bisu kehidupannya itu telah rata dengan tanah.

Di atas puing-puing itu, Amru bin Ash, sang Gubernur kebanggaan Mesir hendak memancangkan tiang-tiang masjid yang megah.

"Demi Tuhan yang kalian sembah," gumam si Yahudi pilu, "apakah doa-doa kalian akan sampai ke langit jika fondasi rumah ibadah kalian direkatkan dengan air mata seorang kakek tua yang kehilangan tempat bernaung?"

Ia berjalan menyusuri lorong-lorong Madinah, mencari sebuah simbol kekuasaan. Matanya nanar menyisir bangunan, membayangkan sebuah istana dengan penjaga bersenjata lengkap, pintu gerbang dari perunggu, dan permadani sutra yang akan menenggelamkan kakinya yang kotor

Di sebuah sudut jalan yang sepi, ia melihat seorang lelaki sedang duduk bersandar pada batang pohon kurma yang kasar. Lelaki itu mengenakan jubah dengan belasan tambalan, sedang sibuk menjahit sandalnya yang putus dengan seutas tali ijuk.

Tidak ada pengawal, tidak ada pelayan yang mengipasi, hanya debu yang menari-nari di sekelilingnya.

"Wahai Tuan yang baik," sapa si Yahudi dengan nada menyindir yang halus, "bisakah kau tunjukkan padaku di mana istana megah Umar bin Khattab? Aku ingin melihat setinggi apa menara kekuasaannya, sehingga suaraku yang parau ini mungkin bisa memanjat dindingnya."

Lelaki yang sedang menjahit sandal itu mengangkat wajahnya. Matanya yang tajam namun teduh menatap si Yahudi seolah sedang membaca lembaran-lembaran jiwanya.

"Istana?" tanya lelaki itu dengan suara rendah namun berwibawa. "Umar tidak punya istana yang dibangun dari batu gunung atau marmer Mesir 

Istananya hanya satu, keadilan. Dan atapnya adalah rasa takut kepada Tuhan. Jika kau mencari kemegahan, kau salah alamat. Tapi jika kau mencari kebenaran, bicaralah."

Si Yahudi tertawa getir, tawanya kering seperti padang pasir. "Jangan mempermainkan orang malang sepertiku. 

Aku datang untuk mengadu pada pemimpin tertinggi kalian, bukan untuk mendengarkan filsafat dari seorang tukang jahit sandal. Bagaimana mungkin lelaki sepertimu tahu rasanya dikhianati oleh seorang Gubernur yang agung?"

Lelaki berpakaian tambalan itu meletakkan sandalnya. Ia berdiri dengan perlahan, namun entah mengapa, saat ia berdiri, pohon kurma di belakangnya seolah nampak kecil. Wibawanya menghimpit udara.

"Akulah Umar," ucapnya pendek. "Bicaralah, Katakan padaku, bagian mana dari keadilan-Nya yang telah dicederai oleh tanganku atau tangan bawahanku?"

Lelaki Yahudi itu tersedak oleh kata-katanya sendiri. Ia jatuh terduduk, menatap jemari Umar yang kasar dan penuh bekas kerja keras.

Di hadapannya, penguasa dua pertiga dunia itu hanya memiliki selembar nyawa dan segenggam integritas.

"Aku mencari istana di atas tanah," bisik si Yahudi dengan air mata yang mulai luruh, "namun aku justru menemukannya di dalam dada seorang manusia yang bahkan tidak sanggup membeli sandal baru."

Umar mendengarkan kisah penggusuran itu tanpa memotong sedikit pun. Wajahnya yang semula tenang berubah menjadi merah padam. Amarahnya bukan karena egonya terusik, tapi karena amanah Tuhan telah dikhianati oleh kemewahan bangunan fisik.

Tanpa berkata-kata, Umar memungut sepotong tulang unta yang sudah kering dan memutih dari tempat sampah di dekatnya. 

Dengan ujung pedangnya yang legendaris, ia menggoreskan satu garis lurus yang tajam dari ujung ke ujung tulang itu, lalu menyayatnya dengan satu garis melintang tepat di tengahnya.

"Berikan tulang ini kepada Gubernur Mesir. Katakan dari Umar Bin Khattab," ujarnya sembari memberikan tulang itu dengan tangan bergetar.

Lelaki Yahudi itu memandangi sepotong tulang kering di tangannya dengan tatapan nanar. Sepanjang perjalanan pulang dari Madinah menuju Mesir, hatinya didera bimbang yang hebat.

Ia sesekali tertawa kecil dalam kepahitan, menyindir dirinya sendiri: “Betapa malangnya aku. Ribuan mil kutempuh untuk mengadu pada sang Raja, namun yang kudapat hanyalah sampah dari tempat pembuangan, apakah keadilan di dunia ini memang semurah tulang busuk ini?”

Sesampainya di Mesir, ia berdiri di tengah kemegahan masjid yang hampir rampung itu. Di hadapan Amru bin Ash yang sedang memantau pembangunan dengan penuh kebanggaan, si Yahudi menyodorkan tulang itu dengan tangan gemetar.

"Ini," ucap si Yahudi dengan nada sarkas yang getir. "Tuanmu di Madinah, sang penguasa yang tinggal di bawah pohon, mengirimkan surat ini untukmu. Ia tak punya kertas, mungkin tinta di negerinya sudah habis untuk menulis sejarah kemenangannya sendiri."

Amru bin Ash menerima tulang itu. Namun, begitu matanya menangkap goresan pedang yang membentuk garis lurus dan silang di atas tulang putih tersebut, seketika dunianya seolah runtuh. 

Wajah sang penakluk Mesir itu memucat pasi, tangannya menggigil hebat hingga tulang itu nyaris jatuh ke tanah.

"Hentikan semuanya!" teriak Amru bin Ash, suaranya parau menembus kebisingan tukang bangunan. "Runtuhkan tembok ini! Kembalikan setiap butir debu ke tempat asalnya. Bangun kembali gubuk tua lelaki ini sekarang juga!"

Si Yahudi tertegun. Ia melihat masjid yang megah itu mulai dipreteli satu per satu demi gubuk reotnya. Rasa herannya memuncak, ia tak lagi bisa menahan lidahnya untuk tidak menyindir rasa tidak masuk akalnya situasi ini.

"Wahai Gubernur," tanya si Yahudi, matanya menatap tajam pada tulang kotor itu. "Sihir apa yang ada pada bangkai ini? Mengapa kau, sang penguasa Mesir yang gagah berani, mendadak layu hanya karena sepotong sampah yang dipungut dari debu Madinah?"

Amru bin Ash menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca menatap garis lurus di tulang itu.

"Ini bukan sihir," jawab Amru dengan suara yang dalam. "Garis lurus ini adalah pesan Umar: 'Wahai Amru, bertindaklah lurus seperti garis ini. Seberapa pun tinggi jabatanmu dan seberapa pun megah masjid yang kau bangun, kau tetaplah tulang yang suatu saat akan membusuk di dalam tanah.' 

Dan garis melintang ini... itu adalah pedangnya. Ia bersumpah akan membelah leherku jika aku berani membelokkan keadilan meski hanya setipis rambut."

Lelaki Yahudi itu terdiam seribu bahasa. Sindirannya hilang, berganti dengan sesak di dada yang tak terbendung. Ia melihat ke arah masjid yang diruntuhkan dan melihat ke arah tulang yang kini terasa lebih berat dari emas mana pun di dunia.

"Tuhan macam apa yang kalian sembah?" bisik si Yahudi, air matanya kini luruh membasahi pipinya yang keriput. "Tuhan yang memerintahkan pemimpinnya untuk merobohkan rumah-Nya sendiri demi menjaga hak seorang tua yang berbeda keyakinan? 

Di dunia yang penuh dengan raja-raja yang haus darah, aku justru menemukan surga di tangan seorang lelaki yang menjahit sandalnya sendiri."

Ia kemudian bersimpuh di hadapan Amru bin Ash, bukan karena takut pada kekuasaan, melainkan karena tunduk pada keagungan budi pekerti.

"Persaksikanlah," ucapnya dengan suara yang bergetar penuh haru, "bahwa tidak ada Tuhan selain Dia yang memerintahkan Umar untuk berlaku adil, dan Muhammad adalah utusan-Nya. Aku tidak butuh lagi gubuk itu, karena hari ini, Umar telah membangunkan sebuah istana iman yang takkan pernah runtuh di dalam jiwaku."

Ikhtibar

Di hadapan keadilan yang sejati, takhta hanyalah kursi kayu yang menunggu waktu untuk menjadi kayu bakar, dan mahkota hanyalah beban yang mempercepat tunduknya kepala ke liang lahat.

Bukankah lucu melihat manusia yang merasa begitu besar hingga tega menggusur hak sesamanya demi membangun rumah Tuhan? Mereka lupa bahwa Tuhan tidak butuh atap yang megah jika fondasinya direkatkan dengan air mata orang yang terzalimi.

Mengapa kita begitu sibuk menghiasi dinding masjid dengan kaligrafi emas, sementara di luar sana ada hati yang hancur karena keserakahan kita yang dibungkus jubah kesalehan?

Ingatlah, sepotong tulang kering di tangan pemimpin yang adil jauh lebih tajam daripada ribuan pedang di tangan penguasa yang mabuk kehormatan.

Sebab, setinggi apa pun kau membangun menara untuk meneriakkan nama-Nya, doa orang yang kau sakiti akan tetap sampai lebih dulu ke langit tanpa perlu tangga. (***)


Baca Juga
Bagikan:
Pengawal.id:
Berita Terkini
Komentar

Terkini