PENGAWAL.ID | MEDAN - Jalan berlubang di Kota Medan kian menjadi sorotan. Kerusakan yang tersebar di berbagai ruas jalan utama hingga kawasan permukiman dinilai sudah memasuki tahap darurat karena tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga mengancam keselamatan pengguna jalan, Rabu (17/6/2026)
Di tengah banyaknya titik kerusakan yang belum tertangani, muncul sindiran keras dari masyarakat yang melabeli Medan sebagai “Kota 100 Juta Lubang”. Julukan itu menggambarkan masifnya jalan rusak yang ditemukan hampir di seluruh wilayah kota.
Sejumlah kecelakaan dilaporkan terjadi akibat kondisi jalan yang membahayakan. Salah satunya menimpa Bon Tong (66) yang mengalami patah tulang tangan kanan setelah terperosok ke jalan berlubang di kawasan Jalan Platina I.
Korban lain, Asiung (45), seorang pekerja mekanik elektrik warga Jalan Swadaya Ujung, Kelurahan Rengas Pulau, Kecamatan Medan Marelan, dilaporkan tercebur ke parit setelah kehilangan kendali akibat kondisi jalan rusak pada Senin (15/6/2026).
Pantauan di lapangan menunjukkan kerusakan jalan tidak hanya terjadi di satu titik. Dari kawasan Jalan KL Yos Sudarso, tepatnya di simpang Jalan Bilal dekat SPBU dan lampu lalu lintas di Kecamatan Medan Barat, lubang-lubang besar terlihat menghiasi badan jalan. Saat hujan turun, genangan air menutupi lubang sehingga membentuk perangkap bagi pengendara.
Kerusakan serupa berlanjut sepanjang Jalan KL Yos Sudarso menuju kawasan Tanjung Mulia, Mabar, Kota Bangun hingga Titi Papan. Di sekitar Simpang Doby, lubang besar menganga di badan jalan dan dikhawatirkan sewaktu-waktu memicu kecelakaan fatal.
Semakin ke arah utara, kondisi jalan tidak jauh berbeda. Di wilayah Martubung, Besar, Pekan Labuhan hingga Belawan, pengguna jalan masih harus berjibaku dengan ruas-ruas yang rusak dan berlubang.
Ironisnya, persoalan ini bukan hanya terjadi di jalan-jalan utama. Informasi yang dihimpun menyebutkan jalan-jalan di 21 kecamatan di Kota Medan juga mengalami kerusakan dengan tingkat keparahan yang beragam.
Pengamat infrastruktur Kota Medan, S. Chaniago, menilai kondisi tersebut menunjukkan lemahnya penanganan dan pemeliharaan jalan. Menurut dia, dampak jalan rusak tidak hanya berujung pada kecelakaan lalu lintas, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi yang besar.
“Selain dapat menimbulkan korban jiwa, jalan berlubang memicu lonjakan biaya operasional kendaraan, kerusakan muatan, penurunan produktivitas, serta meningkatnya waktu tempuh masyarakat,” kata Chaniago.
Persoalan jalan berlubang yang terus berulang menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas pengelolaan infrastruktur perkotaan. Di saat Kota Medan terus bergerak sebagai pusat ekonomi Sumatera Utara, sebagian warganya masih harus mempertaruhkan keselamatan setiap kali melintas di jalan yang rusak.
Bagi masyarakat, jalan berlubang bukan sekadar persoalan kenyamanan. Ketika korban terus berjatuhan dan kerusakan semakin meluas, masalah ini telah berubah menjadi isu keselamatan publik yang menuntut tindakan cepat dan terukur dari pemerintah. Jika tidak, julukan 'Kota 100 Juta Lubang' berpotensi menjadi potret nyata kegagalan menghadirkan infrastruktur yang aman bagi warga.(chan)


