PENGAWAL.ID | HAMPARAN PERAK - Kelangkaan pupuk bersubsidi di wilayah Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, dikeluhkan sejumlah petani. Kondisi tersebut dinilai menghambat aktivitas pertanian dan mengancam keberhasilan program ketahanan pangan yang tengah digalakkan pemerintah, Jum'at (6/11/2026).
Keluhan itu disampaikan Wak Man (62), petani palawija warga Desa Hamparan Perak yang mengaku sudah dua kali mengajukan permohonan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi. Namun, hingga kini pupuk yang diharapkannya belum juga tersedia.
"Jangankan dapat, sudah dua kali saya mengajukan pupuk bersubsidi, tetapi pupuk tak kunjung datang," keluh Wak Man.
Petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Jaya Hamparan Perak tersebut mengaku terpaksa membeli pupuk non-subsidi secara eceran untuk memenuhi kebutuhan tanamannya.
Menurutnya, kondisi di lapangan terasa janggal. Ketika petani mencari pupuk bersubsidi dalam jumlah terbatas, pihak kios pengecer justru menyampaikan stok tidak tersedia. Sebaliknya, pupuk non-subsidi disebut selalu tersedia, bahkan dalam jumlah besar.
"Aneh rasanya, Pak! Kita mau membeli sedikit pupuk subsidi, alasannya dari kios pengecer pupuk tidak ada. Tetapi kalau pupuk non-subsidi, mau beli satu truk pun pasti ada," ungkapnya.
Situasi tersebut memunculkan dugaan adanya praktik penyimpangan dalam distribusi pupuk bersubsidi. Wak Man menduga terdapat kios pengecer yang tidak menjalankan penyaluran pupuk sesuai kebutuhan petani. Bahkan ada dugaan mereka menjual di atas HET (Harga Eceran Tertinggi).
Ia pun meminta pemerintah tidak tinggal diam dan segera turun langsung melakukan pemeriksaan terhadap distribusi pupuk bersubsidi di tingkat desa.
Menurutnya, pengawasan juga perlu melibatkan aparat penegak hukum, khususnya Kejaksaan dan Polri, agar penyaluran pupuk bersubsidi berlangsung transparan serta tepat sasaran.
"Diduga banyak kios pupuk yang nakal sehingga pupuk bersubsidi menjadi langka di lapangan," tegasnya.
Lebih lanjut, Wak Man bersama puluhan kelompok tani di Hamparan Perak berharap pemerintah memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut. Pemerintah desa juga diminta aktif membantu petani agar tidak terus mengalami kesulitan memperoleh pupuk.
Dampak kelangkaan pupuk, menurutnya, turut dirasakan terhadap produktivitas pertanian. Hingga saat ini, para petani belum mampu memasok hasil sayuran secara maksimal ke pasar tradisional. Selain terkendala pupuk, pola bercocok tanam yang masih tradisional juga menjadi tantangan tersendiri.
Adapun komoditas yang selama ini dibudidayakan petani meliputi padi, sawi, pare, mentimun, kacang panjang, terong, hingga labu.
"Harapan kami, pemerintah, khususnya pemerintah desa, bisa membantu dan memperhatikan nasib petani di Hamparan Perak. Jangan sampai program ketahanan pangan hanya menjadi slogan, sementara petani justru kesulitan mendapatkan pupuk," harap Wak Man.
Kelangkaan pupuk bersubsidi ini menjadi persoalan yang perlu segera ditelusuri. Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan melakukan pengecekan terhadap alokasi, ketersediaan stok, serta mekanisme penyaluran pupuk di tingkat kios pengecer.
Jika ditemukan pelanggaran, penindakan tegas perlu dilakukan agar pupuk bersubsidi benar-benar diterima petani yang berhak dan tujuan pemerintah memperkuat ketahanan pangan dapat terwujud.
Konfirmasi wartawan terhadap Kepala UPT (Unit Pelayanan Teknis) wilayah Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang belum menuai hasil.(pe)


